Showing posts with label Dear Diary. Show all posts
Showing posts with label Dear Diary. Show all posts

Sunday, October 28, 2012

Its always about you

Today is my beloved B-day!

This is the 15th time she's encountering the date that is exactly the same with the date she was born fifteen years ago. Its 27th of October. The date had never change, neither do our love to her. She has always be the baby of the family since then.

the hype look of having the first time ever being away from home and family when she left for school.



Blossoming and growing up to be beautiful ever. May Allah bless her :)


Just like before, the birthday celebration is far from perfect. We didn't manage to celebrate it on the day that we supposed to. The most that we did for her was trying to make her rest assure that we really didn't forget that today is her birthday. Today is a long day indeed for us because eventually we're all still in the Eid al-Adha mood. There's still kenduri everywhere that require our presence, (at least we feel that our presence is require there though we're not really sure  does it really is, hehe). And, as we reach home, we're all worn out. Sangat.

Hence adik, I would like you to know that we dearly love you no matter what. Your presence in our life is utmost important and far more  valuable than any other thing in this world. Its not the date that matter, but rather its YOU dear.

Happy birthday beautiful.


Eyqa and adik in front of our late nenek's house.




Wednesday, October 24, 2012

Berkomuniti sampai Syurga

Allah swt yang Maha Penyayang itu  telah mentaqdirkan saya agar berkomuniti dengan mereka. Mereka hidup, menjalani fitrah sebagaimana manusia yang lainnya. Berkehendakkan makanan, pasangan, tempat tinggal dan katakanlah apa jua senarai keperluan hidup seorang manusia, mereka juga berkehendakkannya.  Kerna mereka adalah manusia, seperti saya, seperti kalian juga. Indahnya makhluk bernama manusia, penciptaannya penuh keindahan dan warna warni yang ceria dan indah. Ada saatnya mendung kelabu, tetapi juga cerah ceria seperti indah dhuha selalunya.

Namun, yang membezakan setiap manusia itu adalah paradigma kehidupan yang mereka pilih untuk memandang. Kaca mata jenis apakah yang kita ambil untuk melihat kehidupan yang Allah pinjamkan kepada kita. Andai melihat dengan kaca mata iman dengan matlamat terbesar kehidupan adalah redha Allah, maka pandangan yang terbentang, tindakan yang diambil juga akan menyelusuri jalan itu. Andai kaca mata yang diguna berjenama mahal Ray Ban untuk meraih kagum manusia, maka kagum manusia yang hanya berdetik dua saat itu juga yang akan kita miliki. Itu sahaja. Maka pilihlah paradigma hidup yang benar atau anda akan berbangga selama dua saat sekejap sekejap kemudian rasa kekosongan di jutaan saat minit jam seterusnya dalam hidup anda. Pilihan ditangan anda.

Dunia ni cantik, tapi dengarnya syurga lagi cantik. Cantiknya tak pernah terbayang dek akal, tak pernah terdengar dek telinga. Boleh bayangkan tak tempat tinggal kekal abadi kita tu nanti kalau kita-baik-dan-Allah-redha-dengan-kita, oh!




 Saya melihat mereka, pada bentangan kemewahan dan kekacakan dunia yang mengerlip-ngerlip yang hampir butakan mata hati saya, sedikit pun tidak merubah hati mereka. Dunia diambil sekadar apa adanya. Mereka kelihatannya sangat biasa biasa, yang menarik-narik hati saya cumalah wajah redup dan jiwa perihatin mereka terhadap manusia disekeliling mereka. Datangkan kemewahan dan juga jiwa-jiwa yang perlu dibangunkan, nyata, mereka akan memilih jiwa-jiwa kosong itu untuk diindahkan, dielokkan dan disiapkan sebelum berlepas menuju ke Jannah, :-'(


Faham tak perasaan apabila ada orang yang sentiasa yakin dengan kita walaupun kita pun tak berapa yakin dengan diri kita sendiri dan mereka itu langsung tiada ikatan darah dari sebelah atuk belah mak kita atau nenek belah ayah kita atau atas atas lagi memang takde kaitan. Yang ada cumalah Ikatan Muslimin Malaysia, eh? :))

Lambaian seorang pejuang, bapa. Semoga kelak bisa berkumpul dengannya. Andai tidak didunia, moga di Jannah :)



Hakikatnya kita sama. Yang membezakan kita adalah taqwa. Dan kata 'Umar al-Faruq, "taqwa itu disini," sambil menepuk-nepuk dadanya. Taqwa tidak terzahir dengan paras rupa, tetapi ia adalah rahsia yang Allah sembunyikan dari pengetahuan pancaindera fizikal manusia. Yang tersisa cuma biasan-biasan keindahan akhlak dan peribadi yang terpancar hasil dari acuan jiwa yang bertaqwa. Itu pun masih rahsia. Tiada yang dapat menentukan ketepatannya kerna ikhlas itu hanya terhubung diantara Allah swt dan hambaNya itu sahaja. Tiada yang dapat memintas mencuri-curi dengar rahsia keikhlasan itu. Siapakah kita untuk mengadili manusia.

Yang perlu pada kita adalah meneruskan langkah menuju Jannnah al-A'la. Itu destinasi kita. 


Tuesday, July 24, 2012

Ramadhan dan Rindu

Ramadhan kali ini, saya dilapangkan untuk turut sama menghidupkan terawikh di masjid, alhamdulillah. Nikmat yang besar namun pernah dipandang enteng sebelumnya. Setelah tamat belajar dan mula melayari alam pekerjaan, baru saya sedar betapa nikmatnya menyatukan ion-ion dalam badan dengan jemaah lain dan saling bersinergi untuk mencipta tenaga positif ketika solat apabila peluang itu hanya tinggal kenangan. Nikmat dan peluang ini tak selalunya tersedia, terutama apabila dipanggil untuk bertugas pada malam-malam Ramadhan. Buat kalian yang tak berkesempatan, tabahlah dan tekadkanlah dalam hati agar dikurniakan peluang kelak.



Bertemu kembali dengan Ramadhan kali ini, saya akui hati sangat tergamit syahdu. Belum pun meraikan kemenangan setelah sebulan berjuang didalamnya, pertemuan dengannya sudah cukup menggugat emosi saya yang kebelakangan ini kerap tergoncang. Saya redha dengannya. Saya dan emosi memang tak boleh dipisahkan :D Tetapi kali ini saya beremosi sambil membina jiwa. Saya sedar emosi kali terusik kerana kerinduan saya pada ketenangan hidup yang ditiup oleh Allah swt kepada hamba-hamba yang dicintaiNya. Dan saya berharap saya adalah sebahagian daripada mereka yang dicintaiNya itu (walau hakikatnya saya masih jauh untuk menggapai tahap semulia itu :( )

TAPI

walaupun rasa inferior masih kuat dalam jiwa, saya tetap tak akan berputus asa dari rahmat-Nya. Saya sedar saya masih jauh dalam perjalanan mencari cinta-Nya, tapi saya tetap yakin Dia akann tetap menanti sehingga saya tiba. Oh Allah!

Saya akan tetap berjalan, tanpa henti menuju redha-Nya.

Nak ikut?



Monday, June 18, 2012

un-Seen-able Gift

Have you ever feel as if you are being saved, but the saver (read: hero/warrior) is just not around in person that you don't really get the chance to say how grateful you are to him/her. Well, I feel that way for several times, and I still feel the same today.

Its very irritating when you realize how much you have screwed with your own life. Its like you've reached to a destination that you really don't want to get to. You sighed all day long on how much you wish you could turn back time. Its irony, but its true. Honestly, I hate that kind of feeling though I keep on reaching the same point each and every time. 

Somehow,  there's also some magical moment in my life that I couldn't really describe. It feels just like you've been saved by somebody that you couldn't really see. He's not there, but you can feel He's around. You couldn't see the warm smile but you can feel the warm and endless joys of love and serenity. (Can y'all imagine those miraculous momentous just like a scene in a romantic movies?) The scenario/situation is kind of similar, but the feeling is somehow indescribable).

Its even better than getting a bouquet of red roses with cute card attach on it. Its MORE than that, seriously.

Its like, you feel very blessed.

I feel I am  blessed.

It was then I realized that no matter how I messed up with my life, I've got those prayers from all over the world that will guide me when I'm about to do wrong again, and lead my way to the righteous :)
I knew its the gift from the heaven through those prayers that you guys have for me. I don't really know how to make this post more presentable to my real feelings, but I really appreaciate those du'as and love that have been sent my way.
 
That's the beauty of today. I'm going to cherished it.

 Thank you people!

Let's pray hard, y'all. :)


Wednesday, December 28, 2011

The Cycle of begin and end

Salam and Good Day people :)

Alhamdulillah, we are leaving 2011 (or should I say 2011 is leaving us?) and approaching 2012 with all those hopes and  memories. As for me, those years that I had leave behind are those with 'ibrah and messages, to prepare me for the days ahead. There were tears and laughters all the way along through out those days that I can't erase from my memory. The mixture of  emotions, dreams and reality are well blended that it leaves me with something that I can hold steadfast to. There are times that I laugh out loud with my girls and there are also times that I really need shoulders to cry on. And I did. It's just soo colourful, just like my board now. And ey, I never regret it. Though there are pains that aren't really healing and the journey ahead is not like the primerose  pathway, I'm glad for what I have now and what I used to have. I'm good with my own life, regardless of what other might think about me. I am optimistic about life, yeah, but still looking forward for the days after life.

 Handsome Shayan in his blue stripe shirt, posing with Mr Tissue? ^_^

I got this kind of thought once I step out from the car this morning. Apart from looking forward to have a good results from my long-way-to-go experiments, I would want to make my surrounding (labs, colleagues, friends, housemates, teachers, family, adik2 usrah, acquaintances and etc (and oh even the mice *-*) ) happier. Well, happier in a sense that I can at least be someone that they are happy to see, someone that they would miss when I'm gone, and someone that would make them to remind the death and day after life even just by seeing me in a glance (ok, I'm exaggerating :)) but, seriously I am. (Ok, ini azam tahun barukah? Well, this is not the planned one). I've given all these kind of stuff quite sometimes to think of, and I came to such resolution. Well, I may InsyaAllah finish up my masters degree after few years, get marry and settle down, have kids in Allah's will but one more certain and most absolute thing above all is that I'm going to die anyway. Everybody will. No one will escape. But its just a matter of time that involve the questions like when and where and how. Seriously, no one have the answers to all of the questions above, neither am I. Ok, hopefully I didn't sound like I've given up with my life. Believe me, I'm optimistic to face the days ahead. Giving this kind of thing such a thought is just to get me to hold on to the reality while I'm setting the dream I have high up in the sky.   

Hee, anyway, I've put some colours on my desk and board, with the smiling stars and moons, just to give some mood. Hopefully it will help soon, in case of I feel so exhausted ( and I think I will)


I Like )



That's it for now. No matter who you are, would you please please make du'a for me, cause i kindda need it. Hope to see you in Jannah soon.

Love,

Khairunnisa Razali.


Thursday, October 27, 2011

The Run



Alhamdulillah.



I'm not turning back. Never will I. Never.

For 'thing' that have just happened, please make your move. Don't stay!



And eyy, I found these wise words:


"Wake up with the mindset that today is a new day
A new beginning
Don't dwell on yesterday. Don't dwell on the past.
You can't change things that have already happened.
Accept it. Gain knowledge. Grow. Move forward.
keep your head up and keep marching on.
Today is a new day."
Taken here






Have a good day people :)





Tuesday, October 11, 2011

S E N Y U M L A H :)



salam peeps!

Its been a while since I last updated my Heart Serene. I kinda miss it, but it just couldn't be helped. I got trapped into some new life cycle; early morning havoc, lab's never ending-to-do-lists, cells, rats, new colleagues and etc. When I got home at noon, I was too exhausted that I can't even smile at myself in the mirror.

And yes, I feel like crying.



Dear wordss, please be nice to me..

I don't have the reason why, because I have all these good peoples around me. There's Dr Fahima who talks very nicely to me, Dr Javeed who is protecting me all the way around and Eni who never fails to make me laugh even in the supposed-to-be-sterilised-cell-culture lab (And please don't misunderstood, the lab is still as good as what it supposed to be :))
The list of my good people don't stop here. Yeah, I should mention more, but lets just stop there ^^


Anyway, life is not that bad after all. It's quite fun here. It's just, I got this mixture of feeling; good and bad, nervous yet way too excited, I am scare to attend the weekly meeting yet I cannot wait for it, the project I am about to conduct is kind of complicated yet I'm still care to take the risk. Peeps, do you think I need to consult a psychiatrist or something? ^^


Emotionally unstable


Well, I do enjoy the time here, not mentioning that I don't have any problems around. Me without problems would sound weird anyway! Hehe. Well yes, problems will always find its way to cling over you (and me as well), so let's just get over it, deal with it.

I am not very much in good mood back then, since that I had so many things to do. Care less about what will happen next, I went to my friends' lab and there were them with the senpai. Ok, my life is about going out from one lab and next I will find myself in another lab -,-
As usual, I went inside and say Assalamualaikum to everyone, acting like I was in a very good mood. hehe. Then I sat silently at my friend's desk and make a boring gesture.
And here come the good part of the story. Out of sudden, one of the senpai shouted," ok, Semoga hari ini lebih baik dari semalam,". Do you know at what time this scene happenned? It was after maghrib. Honestly, I was impressed. I usually say this kind of good words early in the morning, not by the time I want to get home. But, that very special day change my perspective. Seeing her (the senior) being so motivated even at the end of the day really makes me feel that I should appreciate every single second of my life. She even told me a story of her succesful friend (which I don't really remember the details of the story), huhu. What I care about the story is that, this very particular friend of this senior keeps herself a habit of smiling at her ownself whenever she wakes up from sleep early in the morning, before starting the day. Cute kan?

So, keep the sweet smile for yourself even if you don't find anyone smiling back at you!

Selamat beramal.

Love,
Khairunnisa' Razali



Friday, April 22, 2011

Trouble is like..


There goes the saying, and I think, I do agree with it.



p/s: me, dancing? OHH! :b


Saturday, April 9, 2011

and here we are..


Berperang diantara masa yang tersisa dengan tanggungjawab yang tak pernah putus.

Ya Allah, permudahkanlah.


Currently with her in the virology lab, making our way to the finishing line (o_0)'

Wednesday, March 16, 2011

Today

Dear you,

this ain't easy, I know.
somehow,
I do believe you can do this.
Be strong caterpillar,
cause the day will come insyaAllah,
when butterfly,
flies away

love,
yourself


Tuesday, November 9, 2010

Muslimah Cantik, Bermahkotakan Rasa Malu


Semoga bermanfaat, wahai Nisa' !

Sumber: muslimah.or.id
Oleh: Ummu Hasan ‘Abdillah


Ketika kita menyadari fitrah kita tercipta sebagai wanita, mahkluk terindah di dunia ini, kemudian Allah mengkaruniakan hidayah pada kita, maka inilah hal yang paling indah dalam hidup wanita. Namun sayang, banyak sebagian dari kita—kaum wanita—yang tidak menyadari betapa berharganya dirinya. Sehingga banyak dari kaum wanita merendahkan dirinya dengan menanggalkan rasa malu, sementara Allah telah menjadikan rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain,

الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَر

“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”(HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhari Muslim, begitu pula Adz Dzahabi)

Begitu jelas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan teladan pada kita, bahwasanya rasa malu adalah identitas akhlaq Islam. Bahkan rasa malu tak terlepas dari iman dan sebaliknya. Terkhusus bagi seorang muslimah, rasa malu adalah mahkota kemuliaan bagi dirinya. Rasa malu yang ada pada dirinya adalah hal yang membuat dirinya terhormat dan dimuliakan.

Namun sayang, di zaman ini rasa malu pada wanita telah pudar, sehingga hakikat penciptaan wanita—yang seharusnya—menjadi perhiasan dunia dengan keshalihahannya, menjadi tak lagi bermakna. Di zaman ini wanita hanya dijadikan objek kesenangan nafsu. Hal seperti ini karena perilaku wanita itu sendiri yang seringkali berbangga diri dengan mengatasnamakan emansipasi, mereka meninggalkan rasa malu untuk bersaing dengan kaum pria.

Allah telah menetapkan fitrah wanita dan pria dengan perbedaan yang sangat signifikan. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam akal dan tingkah laku. Bahkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 228 yang artinya; ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang sepatutnya’, Allah telah menetapkan hak bagi wanita sebagaimana mestinya. Tidak sekedar kewajiban yang dibebankan, namun hak wanita pun Allah sangat memperhatikan dengan menyesuaikan fitrah wanita itu sendiri. Sehingga ketika para wanita menyadari fitrahnya, maka dia akan paham bahwasanya rasa malu pun itu menjadi hak baginya. Setiap wanita, terlebih seorang muslimah, berhak menyandang rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.

Sayangnya, hanya sedikit wanita yang menyadari hal ini…

Di zaman ini justeru banyak wanita yang memilih mendapatkan mahkota ‘kehormatan’ dari ajang kontes-kontes yang mengekspos kecantikan para wanita. Tidak hanya sebatas kecantikan wajah, tapi juga kecantikan tubuh diobral demi sebuah mahkota ‘kehormatan’ yang terbuat dari emas permata. Para wanita berlomba-lomba mengikuti audisi putri-putri kecantikan, dari tingkat lokal sampai tingkat internasional. Hanya demi sebuah mahkota dari emas permata dan gelar ‘Miss Universe’ atau sejenisnya, mereka rela menelanjangi dirinya sekaligus menanggalkan rasa malu sebagai sebaik-baik mahkota di dirinya. Naudzubillah min dzaliik…

Apakah mereka tidak menyadari, kelak di hari tuanya ketika kecantikan fisik sudah memudar, atau bahkan ketika jasad telah menyatu dengan tanah, apakah yang bisa dibanggakan dari kecantikan itu? Ketika telah berada di alam kubur dan bertemu dengan malaikat yang akan bertanya tentang amal ibadah kita selama di dunia dengan penuh rasa malu karena telah menanggalkan mahkota kemuliaan yang hakiki semasa di dunia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang adalah wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/191)

Dalam sebuah kisah, ‘Aisyah radhiyyallahu ‘anha pernah didatangi wanita-wanita dari Bani Tamim dengan pakaian tipis, kemudian beliau berkata,

إن كنتن مؤمنات فليس هذا بلباس المؤمنات وإن كنتن غير مؤمنات فتمتعينه

“Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.” (disebutkan dalam Ghoyatul Marom (198). Syaikh Al Albani mengatakan, “Aku belum meneliti ulang sanadnya”)

Betapa pun Allah ketika menetapkan hijab yang sempurna bagi kaum wanita, itu adalah sebuah penjagaan tersendiri dari Allah kepada kita—kaum wanita—terhadap mahkota yang ada pada diri kita. Namun kenapa ketika Allah sendiri telah memberikan perlindungan kepada kita, justeru kita sendiri yang berlepas diri dari penjagaan itu sehingga mahkota kemuliaan kita pun hilang di telan zaman?

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman: 13)

Wahai, muslimah…

Peliharalah rasa malu itu pada diri kita, sebagai sebaik-baik perhiasan kita sebagai wanita yang mulia dan dimuliakan. Sungguh, rasa malu itu lebih berharga jika kau bandingkan dengan mahkota yang terbuat dari emas permata, namun untuk mendapatkan (mahkota emas permata itu), kau harus menelanjangi dirimu di depan public.

Wahai saudariku muslimah…

Kembalilah ke jalan Rabb-mu dengan sepenuh kemuliaan, dengan rasa malu dikarenakan keimananmu pada Rabb-mu…

Tuesday, October 19, 2010

Feeling good?

Saya sedih :(


Tak gembira hidup dalam keadaan tertekan.


Tetapi, Dia tahu apa yang saya rasa.
Diutuskannya Muhammad saw untuk mengajar kita; anda dan saya dengan doa yang indah ini.

Subhanallah!
Alhamdulillah!


"Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa melainkan hanya Engkau. Karena itu, ampunilah aku, dengan ampunan yang datang dari sisi-Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Al-Bukhari no.834 dan Muslim no.2705 (48)..



"Ya Allah, jadikanlah aku merasa qona’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah Engkau rezekikan kepadaku, dan berikanlah berkah kepadaku didalamnya dan gantikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.” (HR. Al-Hakim I/510 dan dishahihkan serta disepakati oleh adz-Dzahabi, dari Ibnu ‘Abbas rodhiyalloohu’anhuma)


"Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas kesalahan-kesalahanku, kebodohanku serta sikap berlebihanku dalam urusanku, segala sesuatu yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas canda dan keseriusanku, kekeliruanku dan kesengajaanku, dan semuanya itu ada pada diriku.” (GR. Al-Bukhari no.6399/Fat-hul Baari XI/196, dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyalloohu’an)


Rasulullullah saw mengajar kita; saya dan anda untuk sentiasa bermohon keampunan daripada Allah taala.
Tak kira sehebat mana rasa bersalah kita kepada Allah taala, jangan pernah terpedaya dan merasa lemah kerana rahmat-Nya sangat sangat luas bagi hamba-hambanya.

Abu Hurairah ra meriwayatkan, bahawa Rasulullah saw bersabda,
"Sesungguhnya ketika Allah menciptakan makhluk-Nya, maka Dia menetapkan disisi 'arasy-Nya, 'Sesungguhnya rahmatku telah mendahului amarahku'" [HR Al-Bukhari dan Muslim]


Inilah yang saya perlukan sangat sangat saat ini.

Saturday, August 14, 2010

Ouch!



Bismillahirrahmanirrahim..

Semester ini berbeza dengan penggal-penggal pengajian saya sebelum ini. Kali ini, saya direzekikan oleh Allah swt untuk mendiami sebuah bilik yang betul-betul menghadap blok kediaman pelajar lelaki. Dengan jarak yang kurang dari 10 meter, kami pelajar-pelajar disini sungguh sungguh bergantung kepada iman kami untuk amanah dengan mata dan diri sendiri. Kebebasan untuk selalu menikmati pandangan luar tingkap dan menghirup udara segar terbatas selagi berada di dalam bilik. Nikmat udara segar dan pemandangan yang hijau yang menyegarkan mata tidak lagi saya miliki. Nikmat yang dahulu Allah pinjamkan kepada saya, namun, sangat jarang saya syukuri :(


Kampus saya, Puncak Alam:)


Saya memujuk diri dengan bersabar dan bersabar..

************************************************************************

Sedari pagi lagi, saya bersedih kerana deria sakit di dalam mulut dan mata saya seakan-akan meronta-ronta minta diberi perhatian. Ketidakselesaan ini saya bawa dalam sujud dan rukuk saya, saat saya berdiri menghadap Allah, saat perut saya berlapar, saat tenaga semakin berkurang, saat matahari memancar terik dan saat saya perlu berkomunikasi dan bercakap dengan orang di sekeliling saya.

Ikutkan hati, nak je saya guna bahasa isyarat masa beli makanan tadi :(

Tetapi saya sedar, ketidaknormalan yang saya hadapi saat ini adalah sebuah penganugerahan yang tidak ternilai daripada Allah swt. Mata yang merah dan membengkak mengingatkan saya betapa kurangnya saya bersyukur saat mata saya masih sihat, putih dan cantik. Kini, untuk membaca apa yang baru sahaja saya karangkan pun memerlukan mata saya untuk fokus. Ketika pulang dari solat terawih, terkebil-kebil saya meneliti orang dihadapan agar tidak tersilap memanggil kawan-kawan saya. Terima kasih kepada Aisyah kerana selalu menjadi benteng saya sekarang. Secara psikologinya, saya berasa sangat rendah diri apabila berada di khalayak ramai kerana saya sangat merasakan orang melihat saya dengan persoalan yang tak terluah seperti "eh, sakit mata ya?" ataupun "eyy, mata dia..". Tak perlukan orang lain, saya sendiri pun takut menatap wajah sendiri. Dengan mata merah menyala dan membengkak, saya rasa saya layak untuk dicalonkan sebagai pelakon tambahan bagi filem seram! Tetapi, inilah antara kesakitan lain yang dialami bagi orang yang sakit. Saya mempelajarinya secara teori dalam subjek Health Psychology, dan kini saya melalui praktikalnya. Terkenang pula pada adik bongsu saya yang saya jaga ketika adik sakit kelmarin. Ada kalanya saya jadi kurang sabar dan geram bila adik berdegil sehingga terlepas juga seperenggan dua bebelan untuk adik. Yang saya kagumi, dalam kekusutan dan keserabutan yang dilalui, ditambah pula dengan masalah kesihatan, adik relax je tadah telinga dan buat muka selamba layan bebelan saya. Sikit pun adik tak melawan.

Maka, bila melalui apa yang adik lalui, saya rasa saya LEBIH kurang tabah dan LEBIH kurang bersabar dari adik. Entah dari mana kekuatan jiwanya datang, sungguh sungguh ingin saya contohi. Terima kasih sayang kerana bersabar dengan kakak.

Oh ya Allah, saya sangat malu.

p/s: Sesungguhnya sabar itu indah, kawan-kawan. Jadi, bersabarlah!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...